PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN MASYATAKAT DESA


A.     Peranan pendidikan
Salah satu bentuk perdebatan priororitas antara pendidikan dan pembangunan, perdebatan tersebut muncul karena menurut ahli antropologi konsep pendidikan berbeda dengan pembangunan.  Menrutut merekeka Pembangunan merupakan suatu inverstas untuk menambah produksi untuk di pergunakan di kemudian hari dan sedangkan pendidikan adalah konsumsi yang harus perlu dihemat namun di pihak lain ia akan menjadi investasi namun jangka panjang.
Secara tradisional pendidikan dianggap hanya sebagai  alat untuk mengawetkan, mengekalkan dan meneruskan kebudayaan dan struktur-struktur yang ada dari satu generasi ke generasi lainnya. Namun dewasa ini sudah muncul kesadaran bahwa pendidikan sangat berperan penting untuk proses transformasi ilmu pengetahuan serta menyebar luaskannya kepada masyarakat luas bukan hanya sekedar mengawetkannya. Terlebih setelah perang dunia keIII, banyak muncul perspektif antara pembangunan dan pendidikan terlebih pembangunan ekonomi:
1.  Kesadaran sekamin tajam di Negara-negara industry yang memasuki abad teknologi dimana sekamin banyak masyarakat yang bersekolah maka semakin besar pula kemajuan-kemajuan di bidang tekhnologi.
2.  mucnulnya Negara-negara merdeka dalam jumlah yang banyak, maka dalam membangun negaranaya ada penekanan untuk meajukan pendidikan untuk mengurus keperluan Negara.
Pada masa kini hamper diseleruh pelosok daerah telah timbul pemikiran baru dimana ilmu dan pendidikan merupakan sesuatu yang kekayaan mahal  dan dihayati. Sebab orientasi kerja didasarkan pada akal bukan tangan. Oelh karenanya pembentukan orang-orang terdidik merupakan modal besar, sebab itulah hamper disemua Negara memjadikan pendidikan sebagai pokok perhatian.
Sesuatu yang pasti bahwa ada korelasi antara pendidikan, produktifitas tenaga kerna antara pembangunan ekonomi sehingga, secara general dapat dikatakan bahwa tidak ada petani yang buta huruf lagi. Mengenai sejauh manailmu ekonomi berafiliasi terhadap pendidikan, para ahli banyak memberikan saran dan diantaranya ada 3 pendekatan yaitu:

·         Pendekatan residual : yaitu menghitung sumbangan dari modal, input tenaga kerja dan sumber fisik lain kepada pembangunan ekonomi, yang tertinggal sebagai sisa dianggap berasal dari manusia, pendakatan ini menunjukkan sebaigian besar pertambahan produksi di Negara-negara industry tidak dapat deterangkan melalui sisi input modal non fisik, tetapi dari factor manusia. Maka dari itu peningkatan pendidikan merupakan penginkatan mutu pekerjaan.
·         Pendekatan korelasi : menggunakan perbandingan antar Negara dengan cara mencari hubungan antara tingkat perkembangan pendidikan dengan tingkat perkembangan ekonomi. Dan kesimpulannya bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkat pembangunan ekonomi suatu Negara.
·         Rate of return approach : pendekatan ini mengasumsikan bahwa pendapatan atau penghasilan  individu berkependidikan berasal dari investasi  pendidikan makanya menilai penghasilan dari produk pendidikan.
Melihat  sumbangan pendidikan diatas, banyak ahli ekonomi dan pemerintah telah menyadari dan mengakui pentingnya pendidikan dalam rangka pembangunan. Pendidikan bukan hanya sebagai prakondisi bagi pembangunan namun juga sebagai syarat utama untuk mencapai pertumbuhan yang menyangga diri sendiri.
Diakui bahwa manfaat pendidikan tidak bias dinikmati secara jangaka waktu pendek karena dibutuhkan waktu yang relative panjang, maka dari itu pendidikan untuk pembangunan memiliki sisi ganda. Dalam jangka pendek pemerintah harus berusaha membesarkan dan melengkapi system pendidikan dengan syarat-syarat dan ketentuan. Namun dalam jangka panjang, Negara akan mendapatkan tenaga-tenanga ahli yang mantap dan terdidik. Kecepatan kemampuan mereka akan mampu mempecepat mobilitas kerja dan produksi.
B.     Situasi Pendidikan di Negara-Negara Sedang Berkembang Terutama di Indonesia
Umumnya Negara-negara berkembang adalah Negara-negara bekas  jajahan. Selama dalam belenggu penjajahan hamper semua kegiatan yang dilakukan masyarakat hanya berkaitan dengan penjajahan itu sendiri, sebagai contoh adalah pendidikan sekolah-sekolah. Sekolah diselengagarakan untuk mempersiapkan orang bekerja dikantor-kantor yang kurikulummnya sesuai dengan Negara penjajahnya dan mengajarkan materi sekolah dengan bahasa Negara penjajah itu sendiri, maka pengajaran sedikit atau malah lebih tidah ada kaitannya dengan kehidupan masyarakt  dan malah membuat anak didik tersebut mereasa asing.
Sesuai dengan keingin penjajah, maka pendidikan yang diselenggarakan hanya untuk penyangga kehidupan dan perkembangan Negara mereka dan masyarakat terus dihalangi untuk merdeka. Hal ini juga mempengaruhi pendidikan, karena pendidikan akhirnya akan menghasilkan tenaga kantoran rendah. Akibatnya banyak masyakat pribumi yang tidak merasakan manisnya pendidikan sekolah. Fakta lain adalah bahwa  pelajar yang belajar pada zaman itu harus mengikuti agama penjajah  akhirnya pelajaran tidak disukai oleh masyarakat.
Karena kurikulum akan menghasilkan adak didik di dunia sekitar, disamping itu ada juga syarat-syarat yang menyakitkan hati, ditambah lagi pelajaran yang diajarkan tidak disukai oleh masyarakat  dan masyarakt kurang tertarik untuk bersekolah dan akhirnya tanggapan masyakat ketika itu umumnya kurang menyenangkan  dan bersifat negative.
Seteleh kemerdekaan, negara berkembang ingin memajukan pendidikan tapi karena keadaan yang masih rawan dan kemampuan yang terbatas pemerintah hanya melakukan perbaikan di bidang ekonomi dan politik. Sedikit di bidang pendidikan,sehingga hanya terjadi perubahan kecil.
Di negara-negara maju pendidikan telah di sesuaikan dengan tuntutan zaman dan kebutuhan masyarakat. Mutu pendidikan pun telah di berbaiki, tapi di negara-negara berkembang  perkembangan situasi pendidikan sangat lambat. Karena pemerintah fokus memperbaiki bidang politik  dan ekonomi, bidang pendidikan hanya mendapat porsi yang sedikit akibatnya pemisah antara dunia pendidikan di negara maju dan negara berkembang semakin jauh yang berakibat kepada bidang-bidang lainnya.
Tenga pengajar dan guru-guru pun memberikan metode pengajaran tidak jauh berbeda dari masa penjajahan, cara mendidik pun tidak jauh berbeda, memperkuat persepsi masyarakat yang kurang baik terhadap sekolah.
Negara berkembang yang sudah mencapai stabilitas nasional memberikan perhatian yang lebih terhadap dunia pendidikan. Mereka sadar selama ini sistem pendidikan tidak sesuai dengan apa yang di butuhkan maka keinginan untuk memperbaiki sistem pendidikan semakin tinggi agar pendidikan dan hasilnya dapat meneunjang usaha pembangunan.
Laju pertumbuhan penduduk memperberat tugas pemerintah. Pemerintah tidak hanya harus meningkatkan mutu pendidikan tapi juga bagaimana anak usia sekolah bisa tertampung di sekolah. Pemerintah harus memikirkan aspek kualitatif dan kuantitatif dalam bidang pendidikan. Ini juga membutuhkan dana yang besar, akibanya sering terjadi konflik antara kulaitas dan kuantitas.
Pada masa pemerintahan orde baru (1966) telah ditekankan bahwa pendidikan yang baik adalah vital untuk mencapai tujuan nasional di bidang pembangunan ekonomi dan sosial. Pemerintah masih kawatir terhadap mutu pendidikan yang merupakan warisan dari penjajah. Sistem pendidikan seusungguhnya tetap tidak berubah.
Perhatian pemerintah terhadap pendidikan sudah semakin besar, jumlah sekolah yang semakin meningkat walau dari segi kualitas masih kurang tapi usaha yang dilakukan oleh pemerintah sudah cukup baik.

c. pendidikan di pedesaan
di pedesaan ada pendidikan secara tradisional, pengajaran informal yang di lakukan oleh oleh keluarga dan keluarga besar. Biasanya oleh orang tua dan pemuka agama, biasanya ini untuk anak laki-laki dimana pada waktu-waktu tertentu mereka meninggalkan rumah dan bersama –sama dengan teman sebayanya dan dididik melalui kontak langsung dengan orang-orang yang lebih tua dari mereka. Pendidikan ini bersifat agama,etika,latihan fisik dan latihan utntuk keahlian kerja.
Tapi masyarakat desa kurang menyukai model pendidikan ini karena :
1. Orang menggantungkan harapankepada anak-anaknya untuk hidup dan kepada sekolah untuk memenuhi harapan itu
2. model pendidikan seperti ini berlandaskan tradisi dan adat istiadat, tapi lama-kelamaan ini bertentangan dengan masyarakat yang telah menrima nilai-nilai dan ide-ide baru dan melepaskan diri dari kehidupan yang merasa terikat dan dulunya sangat kokoh.
Penyebab masyarakat kurang senang menyuruh anak-anaknya kesekolah dan menimbulkan persepsi yang kurang baik terhadap sekolah pada msa penjajahan belanda karena :
1. Sekolah pada masa itu tidak sesuai dengan apa yang baik menurut masyarakat tapi seperti ingin menggeser nilai-nilai asli masyarakat.
2. sekolah itu mengajarkan agama penjajah bukan agama asli atau agama tradisional dan menyebabkan terjadi disintegrasi dalam masyarakat.
3. kurikulum dan pengetahuan yang di ajarkan diperlukan untuk memperoleh pekerjaan di luar masyarakat desa, bukan memebuat mereka hidup dalam masyarakatnya.
Sekolah tidak mendapat pengahargaan dari masyarakat,karena merupakan “lembaga asing”. Sekolah mereka terima bukan sebagai alat untuk menyesuaikan diri pada pembangunan dan membangun masyarakatnya dari dalam, melainkan untuk memelihara dan menaikan prestise mereka di hadapan msayarakat sekitarnya. Sekolah dihargai bukan karena nilai pendidikan tapi untuk meningkatkan status sosial. Tapi cara ini berdampak kurang baik yaitu :
-          Tidak ada pengaruh yang positif dan efektif dalam pembangunan masyarakat malah sebakiknya.
-          Setelah tamat sekolah, karena ilmu yang di peroleh tidak funsionil maka mereka mencari pekerjaan ke tempat lain.
-          Bagi yang kurang mampu secara ekonomi, mereka tidak mampu menyelesaikan sekolah terpaksa keluar dari sekolah.
Keinginan dan usaha merelevansi kan kurikulum – kurikulum bagi Negara Indonesia sebenarnya sudah di tuangkan dalam GBHN Tap. No. IV/MPR/1978 yang berbunyi sebagai berikut :
1.      Sistem pendidikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan segala bidang yang memerlukan jenis-jenis keahlian dan keterampilan serta dapat sekaligus meningkatkan produktifitas,mutu dan efesiensi kerja.
2.      Tikik berat program pendidikan dasar dalam rangka mewujudkan pelaksanaan wajib belajar yang sekaligus memberikan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan lingkungan serta peningkatan pendidikan teknik dan kejuruan pada semua tingkat,untuk dapat menghasilkan anggota – anggota masyarakat yang memiliki kecakapan sebagai  tenaga-tenaga pembangunan.
Dari ketetapan ini terlihat banyak ide luhur yang terkandung di dalamnya,namn dalam kesempatan ini hanya dilihat dan dikaitkan terutama dalam rangka pembangunan pendidikan di pedesaan. Namun bahwa pada dasarnya masih banyak anak di pedesaan yang putus sekolah sebelum tamat sekolah dasar,dengan alasan berikut :
1.      Putus sekolah merupkan masalah social ekonomi dari pada masalah pendidikan. Dari penelitian yang diadakan banyak orang tua mengatakan bahawa mereka tidak dapat menyekolah kan anaknya karena kekurangan atau ketiadaan biaya, bukan semata mata karena anaknya tidak mampu untuk sekolah.
2.      Karena tuntutan ekonomi banyak anak terpaksa meninggalkan sekolah buat sementara waktu untuk membantu orang tua dalam pekerjaan tertentu seperti dalam waktu panen,mengolah lading/sawah dan sebagainya,namun sesudah kembali ke sekolah mereka menemukan diri mereka sudah jauh ketinggal dengan teman-temannya,sehingga mereka memutuskan untuk berhenti bersekolah. Padahal dalam penelitian yang dilakukan anak-anak yang putus sekolah dengan penyebab ini tidak selalu menunjukkan tingkat kegagalan yang tinggi dalam pelajaran dibandingkan dengan murid yang masih terus sekolah.
3.      Kurang atau terbatasnya kesadaran orang tua terhadap pendidikan. Factor penyebabnya dalah dapat berupa pengaruh dari pengalaman masa lalu atau teman-temannya  karena  kenyataan banyak yang anak-anak lulus sekolah dasar ternayat hanya menjadi buruh kasar apabila ia tidak dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah lanjutan.
Pandangan terakhir inilah yang cukup banyak ditemui dan cukup besar pengaruhnya sehingga perlu perhatian dan penanganan yang lebih serius dan segera. Dapat dipahami kalau anak yang sekolah di sekolah dasar tapi tidak tamat dan juga kalau pun tamat,sesudah kembali dalam masyarakat tidak menampakkan prestasi kerja atau cara kerja yang lebih baik dibandingkan dengan anak-anak yang tidak sekolah,dapat mengakibatkan kurangnya kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anaknya.
Mengingat cita-cita Bangsa dan Negara Indonesia adalah Negara kesatuan maka semua tindakan dan usaha pemerintah dan rakyat Indonesia tentu di arahkan dan ditujukan untuk mencapai kesatuan nasional. Indonesia terdiri dari ribuan pulau,ribuan bahkan puluhan ribu desa dan tentu banyak corak kehidupan dan tuntutan masyarakat. Jika berkeinginan menyesuaikan kurikulum dengan kehidupan seluruh masyarakat,maka tentu dibutuhkan cukup banyak kurikulum. Supaya kurikulum yang hendak dilaksanakan mempunyai sifat nasional namun sekaligus dapat memperhatikan keadaan dan kebutuhan masing-masing daerah ,ada beberapa alternative kemungkinan dalam penyusunannya,yaitu :
1.      Mata pelajaran yang sifat nya umum yang dibutuhkan untuk peningkatan pengetahuan dibuat dan di tentukan dari pusat,kemudian diberi ruang gerak kepada daerah untuk merefisi mata pelajarn tersebut sesuai dengan kebutuhan ,namun dengan jumlah beban ruang gerak yang sama terhadap seluruh daerah.
2.      Kurikulumnya sama untuk seluruh wilayah tanah air,namun dengan memberi kesempatan dan kemungkinan untuk mengadakan pendekatan praktis terhadap semua mata pelajaran dalam kurikulum,penggunaan aktifitas praktis sejak awal kehidupan bersekolah untuk menciptakan hubungan erat dan langsung antara symbol-simbol bahasa dan angka-angka serta apa maknanya ,terutama di sekolah dasar di pedesaan.
3.      Kurikulum ditentukan secara nasional,namun kurikulum harus cukup luwe untuk memungkinkan kreasi guru,bebas bereksperimen dengan metode-metode baru,serta menyesuaikan kurikulum dengan kehidupan lokaldan juga harus menyediakan dan menawarkan kepda guru yang kurang mampu kerangka penuntun dan konrol yang diperlukan,andaikata perlu dibantu untuk meningkatkan atau melaksanakannya.
Cara-cara tersebut adalah saran atau bantuan pemikiran,pemilihan nya tentu harus hati-hati,sebab harus memikirkan situasi dan akibat yang dapat terjadi di kemudian hari.
Cara diatas adalah sarana atau bantuan pemikiran, pemilihannya tentu harus berhati-hati, sebab memikirkan situasi dan akibat yang dapat terjadi dikemudian hari, dan harus dipertimbangkan masak-masak, dan masih ada alternative yang lain. Hendaknya alternative yang di ambil untuk mengiginkan supaya kurikulum yang digunakan dapat bermanfaat dan dapat membantu dalam usaha pembangunan di pedesaaan. Maka situasi desa harus diperhatikan dan diberi ruang gerak kemungkinan untuk dilaksanakan.
Agar ruang gerak yang diberikan pada daerah memasukan hal-hal yang penting kedalam kurikulum sekolah agar menghasilkan tenga-tenga yang terdidik. Maka dalam penyusunannya sebaiknya diberi pedoman atau patokan yang mungkin hal itu tercapai, dan harus memungkinkan:
1.      Timbulnya jiwa inovatif paada murid, yaitu hasrat mencoba, bereksperimen, dan hasrat untuk menciptakan.
2.      Sekolah dan masyarakat saling berkerjasama dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan, sehingga dapat menghasilkan mental tradisionil  yang hanya mendambakan pegawai pemerintahatau menunggu diberikan pekerjaan.
3.      Timbulnya sikap yang baik terhadap pekerjaan produktif, trutama pekerjaan tangan yang mungkin kotor  dalam prosesn menciptakan sesuatu, sebab perlu disadari hanya pekerjaan kantor mustahil pembangunan dapat berjalan.
D. Guru dalam pembangunan
Pendidikan merupakan salah satu aspek untuk memajukan dan membangun masayarakat terutama didaerah pedesaan maka dibutuhkan sekolah-sekolah, kurikulum yang baik dan dapat memeberikan suatu kemajuan bagi daerah dipedesaan. Walaupun sekolah-sekolah didirikan dan kurikulum diperbaiki tidak sendirinya harapan itu tercapai. Berhasil tidaknya kegiatan pendidikan itu tergantung pada pelaksanaannyan atau mereka yang terlibat didalamnya. Guru adalah tenaga –tenaga yang berkiagatan sebagai pendidik dikelas, dan sebenarnya dapat juaga mempengaruhi masayarakat baik dalam memperbaiki dan meningkatkan citra masyarakat sehingga dapat mendorong mereka untuk menyekolahkan anaknya, dan guru juga dapat mempengaruhi masyarakat baik langsung dan tidak langsung dapat dikategorikan bahwa guru adalah sebagai petugas pembangunan di pedesaaan.
Misi utama guru sebagai pendidik, yaitu menyampaikan pengetahuan di kelas kepada murid-muridnya dengan harapan supaya muruid-muridnya itu dapat memperoleh pengetahuan yang nanti dapat mencerdaskan dan meningkatkan status hidup mereka. Namun dilihat daari keadaan dipedesaan terutama keadaan ekonomi masyarakat kurang, sedikit murid itu yang melanjutkan sekolah yang lebih tinggi diluar desanya, sebagian dari mereka akana langsung terjun bekerja dalam masyarakat, agar ilmu dapat disadap maka diperlukan kurikulum yang sesuai dengan dengan kebutuhan mereka, akan tetapi apabila kurikulium telah diadakan tidak ada artinya bila guru tersebut tidak mampu dan siap untuk melaksanakannya. Pertama guru perlu dipersiapkan lebih dulu agar sadar akan tuntutannya, baik memlalui penataran, kursus dan lain-lain. Namun disini letak permasalahannya apabila guru disekolahkan lagi maka sekolah-sekolah dipedesaan akan mengaslami kekurangan guru yang sudah sangat kurang tesebut. Di samping itu daerah desa yang umunya masih cukup terisolir, sehingga silit dijangkau dan didatnagi oleh petugas dari pusat, biasanya guru-guru dipedesaan sering kelupaan dari perhatiaan petugas pusat. Kalau memeng pemerintah ingikan atau mengharapkan supaya pendidikan dipedesaan ditingkatkan maka perlu perhatian dan penanganan yang serius supaya banyak orang terutama mempunyai kemampuan intelektuil bersedia dan tertarik menjadi guru di pedesaan.
Cara yang utama adalah dengan meningkatkan profesi guru dalam pandangan masyarakat, usaha untuk itu banyak cara yang ditempuh yaitu:
1.      Perlu memberikan imbalan yang sesuai atau memadai terutama dalam bentuk gaji atau penerimaan bulanan. Orang ysng sudah menjadi guru terpaksa mencari pekerjaan sambilan yang lain , mereka terpaksa melakukan beberapa jenis pekerjaan padahal kebiasaan itu hnaya kerja sambilan, justru pekerjaan sambilanlah yang lebih diperhatikan ketimbang pekerjaan pokoknyan sebagai guru. Dengan adanya kerja sambilan akan membawa pengaruh yang kurang baik terhadap pengajaran disekolah, baik dalam arti mutu, dan juga sikap dalam sikap penerimaan terhadap tugas utamanya.

2.      Sebaiknya dikuti dengan pemberian atau kemudahan fasilitas-fasilitas tertentu yang dibutuhkan dalm atau berkaitan secara langsung dengan pekerjaan mereka sehari-hari. Guru-guru didaerah pedesaan jarang mengadakan kontak atau dengan dunia luar, sehingga sulit untuk mereka memperoleh bahanbacaan bermutu yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan mutupendidikan, kurangnya buku-buku bermutu akan menghalangi para guru untuk memenuhi bahkan kebutuhan terbatas yang secara tradisonil telah diterima disekolah-sekolah. Prinsip yang baik dalam pengajaran modern menghendaki supaya guru-guru mendorong muridnya untuk mengajukan pertnyaan andaikata muridnya mengajukan peertanyaan kerena keterbatasan sumber ilmu maka guruakan kehilangan muka dihadapan masyarakat. Kalau pemerintah perlu meningkatkan mutu pendidikan dipedesaan maka lepada mereka yang bersedia menjadi guru didesa diimbangi dengan pemberian buku cuma-cuma sehingga dapat diharapkan akan mendorong mereka tertarik menjadi guru didesa

3.      Bentuk lain dalam rangsangan atau isentiup tertentu yang melebihi teman sejawat mereka yang bertugas dikota baik dalam bentuk mudahnya naik pangkat, atau golongan, kemudahan mengurus hal-hal yang diperlukan atau pangkatnya dinaikan setingkat lebih serta pemberian penghargaan  tertentu, dengan cara ini mereka yang sudah menjadi guru akan tertarik bekerja denagan sungguh-sungguh dengan harapan sebuah imbalan.



0 comments:

Post a Comment

 
Advertise
300x250
Here

Ads by Seocips.com

About